Benderaku yang tidak Berkibar Gagah
Tengah
malam dikamarku yang tenang, tentram, ruang yang gelap, hembusan angin-angin
malam yang khas suasana yang aku alami malam ini seperti singgah dalam kota
mati yang hanya aku seorang diri dan suara-suara lantang jangkrik, rasanya aku
ingin melantangkan juga perasaan ini menyampaikannya kepada angin yang akhirnya
memberikan harapan kosong. Angin tidak seperti merpati yang mengerti tentang pesan
yang harus disampaikan kepada sang penunggu kabar, kalau saja angin seperti
merpati akan ku titipkan segara pesan tentang perasaan ini yang sempat
kupendam.
Sorotan
cahaya yang berasal dari lampu luar, menyoroti ruang di sela-sela jendela
kamar. Seolah semakin memancing rasa yang pernah ada ialah tentang rasa
yang masih terpendam, sampai malam ini pun kalau boleh jujur rasa ini masih
terisolasi berdiam diri diruang hati dan masih belum berubah. perasaan ini yang
kuingat kembali atas keadaan malam yang tenang, kalau digambarkan seperti
bendera yang berkibar diatas tiang seolah menginterpresentasikan sebagai sebuah
simbol bahwa kibaran bendera ini ditujukan untuknya. Namun dengan sikapku
yang pecundang, sekarang seolah perasaan itu tenggelam bagaikan batu didalam
air tidak berkutik membeku dan terus tenggelam.
Lalu hembusan
angin malam yang terlalu malam semakin saja kencang sangat terasa
dikening dan menusuk dingin pada tubuh, melengkapi semua kemelonkolisan malam,
seakan terus memaksa menggiring ingatanku kembali pada masa aku masih mempunyai
momentum untuk mengutarakan kibaran-kibaran perasaan itu. Namun keadaan memang
tidak berpihak kepadaku, sulit rasanya bagiku untuk mengibarkan bendera
perasaanku kembali terhadapnya. Sebagai sudut pandang seorang lelaki pejuang
sejati seharusnya kita tak harus menyerah walau keadaan seperti apapun, justru disitulah
tantanganya untuk berjuang melawan apa yang bisa menghambatnya untuk
mengibarkan bendera perasaan dengan gagah. Itu akan menjadi bumbu lika-liku
dalam proses mendapatkannya. Karena dengan proses perjuangan yang sulit ketika
kamu berhasil mendapatkannya akan terasa lebih haru dan berkesan. Oke
pernyataan itu seperti sangat menyindir keadaanku dalam mmperjuangkan bendera
perasaanku itu.
Jadi pada intinya aku pernah memperjuangkan perasaanku terhadap seseorang, dan
juga sempat mengutarakan bendera perasaanku untuk mendapatkannya. Lalu apa yang
didapat saat aku memproklamirkan perasaan terhadapnya? Dia hanya terdiam dan
tidak menjawab sepatah pun untuk merespon rangkaian kalimat yang aku lontarkan.
Entah apa yang ada dalam pikiranku karena sebelumnya aku telah merencanakan
waktu yang pas kapan perasaan itu akan kuungkapkan, namun dengan rasa yang
bergebu-gebu seolah aku spontan mengutarakan perasaan terhadapnya. Yang aku
alami saat kejadian itu ada sedikit kebingungan dalam benaku, saat membangun
hubungan kedekatan bersamanya ketika itu rasanya berjalan dengan mulus-mulus
saja. Bagaimana aku bisa mendikte secara sepihak bahwa kedekatan itu berjalan
mulus? Yaa karena dia juga telah merespon aksiku sebagai lelaki selama
kedekatan itu berlangsung. Momentum kedekatan itu aku alami dalam beberapa
bulan. Namun dalam beberapa bulan itu rasanya aku jalani dengan sia-sia. aku
pernah berharap dan sempat berfikir ini akan berjalan mulus seperti
pengkhayalan yang sempat menghiasi dalam kepalaku.
Kabar
mengejutkan bagiku ketika aku dengar dia telah memilih orang lain. Aku
diporak-porakandakannya Seperti tiang dengan bendera diatasnya
berkibarlah bendera itu oleh hembusan angin, lalu datanglah badai dan
menumbangkan bendera itu dengan sekejap. Oke dia telah memilih orang yang
mungkin lebih baik segalanya dariku. Itu hak dia, dia yang menjalani hidup dan
dia juga berarti mempunyai kewenangan untuk apa yang menjadi baik dalam
hidupnya dan aku rasa dia telah mempertimbangkan semua itu. Dan aku
terima itu walaupun rasa kekecewaan masih terbelenggu , itu adalah
kemanusiawian yang wajar menurutku. Aku menikmatinya dengan semangat
hari-hariku yang tidak antusias, jadi perlu aku bocorkan untuk kalian para
perempuan, ketika dirasa lelaki tetap cuek dalam menghadapi permasalahan
perasaan, itu bisa dibilang pernyataan yang kurang tepat. Sekeren-kerennya
lelaki, ketika berkumpul atau main ps dengan temannya saat dia ditimpa masalah
tentang keluh kesah permasalahan kisah cinta, pasti ujung-ujungnya dia
curhat juga pada teman lawannya.
Bagaimanapun atas kejadian itu aku tidak pernah marah apalagi benci terhadapnya
karena setidaknya dulu dia pernah menjadi alasan kenapa aku bisa
bersemangat dalam menjalani hari-hariku. Singkat memang masa-masa aku
lalui saat bersamanya namun itu menjadi bagian sedikit dari kisah cerita indah
dalam kehidupanku. Dan selang dari beberapa bulan, yang seharusnya ini menjadi kabar
baik buatku. Aku mendengar bahwa dia telah putus dengan lelaki pilihannya.
Bagaimana bisa mereka menyia-nyiakan hubungan itu, sementara aku telah pernah
memperjuangkan untuk mendapatkan status hubungan itu. Lalu setelah mendapat
kabar itu apakah aku kembali memperjuangkan bendera perasaanku kembali?
Jawabannya tidak, biarlah apa yang telah terjadi dulu berlalu dan gugur oleh
waktu, walau didalamnya menyimpan perasaan. Karena peran waktu lambat laun akan
mengalihkan pada hal-hal baru terhadap kenangan yang telah dilalui, dan hal-hal
baru berpotensi menggugurkan apa yang pernah terjadi dulu, suatu kenangan indah
yang sempat singgah dalam hidup. Dan setelah kejadian itu saya berhak memilih
diantara mengulang kembali atas apa yang aku sempat perjuangkan atau memilih
hal-hal baru yang dapat menggugurkan apa yang pernah terjadi dulu saat
bersamanya? aku lebih memilih hal-hal baru karena hal-hal baru dapat
menghadirkan sesuatu yang lebih baik dibanding masa lalu yang kelam.

Komentar
Posting Komentar